Sunday, February 7, 2010

"I am afraid to forget you"

Dia pulang. menuju peristirahatan. sudah cukup untuk beraktivitas hari ini. tidak ada kejadian khusus. Apapun yang berarti. Bahkan tidak ada masalah. Hari masih sore saat Dia pulang.

Biasanya,Dia hanya melewati jalan inipada saat hari sudah benar-benar gelap. Jarak terjauh, terlama dan terbahaya yang masih tersisa untuk pulang. Sesunggahnyaroda-roda angkutan yang membawanya. Dia banyak berpikir diperjalanan. Oh, Bukan. Dia banyak melihat diperjalanan. Dia menikmati apa yang disajikan. Sehingga tak sungkan untuk dibawa ke jalan ini.

Dia tidak pernah melihat ini. Selama tujuh tahun dia melewatinya. Tanpa melihat ini.

Jalan itu berubah. Jalan sepi saat Dia menyusurinya sepulang sekolah dulu. Jalantikus kesukaannya masih ada tapi tidak dengan rumah-rumah sepanjang jalan ini. Dahulu Dia kenal dengan penghuni rumah-rumah ini. Mereka teman satu sekolahannya.Sekarang, Dia tidak yakin apa disanamasih ada orang yang sama yang dulu dia kenal?. Bisa saja dahulu dia mampir di salah satu rumah untuk berteduh dan berbincang hanya untuk disuguhi air putih. Atau sekedar cuci kaki dan makan siang karena sebelumnya tidak sengaja jatuh kedalam sawah dan takut untuk pulang dengan sepatu penuh lumpur. Dia tidak bisa melihat wajah kecil temannya dulu. mereka ini asing.

Jalan ini memang keras. orang-orang ini datang dan pergi untuk hidup. MEncoba peruntungan. Yang sukses akan menetap dan yang gagalakan terus mencoba ditempat lain. Dan pada saat ini, semua orang juga kembali ke peristirahatan.

Jalan ini sudah berubah. Bukan rumah-rumah mungil yang asri. Tapi bangunan yang kokoh, berusaha, mencoba dan berharap. Yang lapuk digantikan dengan yang tahan lama. Yang tidak ada menjadi ada. Dimulai dari Nol.

Dengan langit violet jingga, dia bertanya, "Apakah yang mereka dapat hari ini?", dengan ekspresi seperti itu apakah puas, ataukah kurang mencukupi?. Hidup dijalan ini menjadi keras. mereka berubah untuk bertahan. MErekaberadaptasi untuk menang, atau setidaknya untuk garis finish.

SEkarang Dia duduk didepanku. Membakar lidahnya dengan memakan cepat-cepat mie instan panas ke tenggorokan. Mencoba memikirkan penjelasanku atas pertanyaaanya. Mencerna mie instan dan obrolan kami.

"Apakan aku akan berubah?".
Dia bertanya sambil lalu.
Dan kami hanya menikmati sisa malam ini. Menunggu apakah kami akan berubah. dan menghabiskan mie instan panas-panas.


My Brightest Diamond - We Were Sparkling

No comments:

Post a Comment